Cucuku Sayang.. Dhea dan Marsha


Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di depan kedua jenazah itu.

 

Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.

Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09. 00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.

Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam memeknya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa kontolku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang akupun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.

Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.

“Dhea. . kamu lagi. . ngapain?”
“Uh. . kakek. . ngagetin aja. . nih. . ”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget. . yach, kamu. . belajar begini sama siapa. . kamu ini bandel yach. . ”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea. . nggak bandel loh. . Kek. . ”
“Sini Kakek. . juga mau nonton, ” kataku sambil duduk di sebelahnya. “Kakek mau nonton juga. . Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak. . ayo pindahin channel-nya!”

Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan kontolku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku.

“Dhe. . mau Kakek pangku. . nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh kontolku yang masih tertutup celana.
“Ah. . Kakek. . ada yang mengganjal memek Dhea nih dari bawah. ”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal. ”

Tiba-tiba Dhea menungging di pangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi memeknya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
“Dhea. . biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah. . Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek. . nanti Kakek nggak lihat filmnya. ”
“Ah. . nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini. ”

Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada memeknya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.

“Ah. . Ah. . ssh. . sshh. . ” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat.

“Aw. . aw. . aw. . sakit. . Kek. . ” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara memeknya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke memeknya. Saat memek itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena memek itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari memek perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.

“Argh. . argh. . lidah Kakek enak deh. . rasanya. . agh menyentuh memek Dhea. . Dhea jadi suka banget nih. ”
“Iya. . Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya. ”
Dengan rakusnya kujilati memek Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji itilnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji itilnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan.

“Argh. . sshh. . agh. . aghh. . tiddaak. . Kek. . uenak. . buanget. . Kek. . argh. . agh. . sshh. . ” Hampir 30 menit lamanya biji itil Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam memeknya yang langsung membasahi memeknya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji itilnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku.

“Argghh. . aawww. . sshh. . tolong. . Kek. . eennaak. . baangeet. . deh. . ” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.

Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana kontolku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga memek itu kembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan kontolku persis di memeknya. Karena memeknya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke memeknya, supaya memek itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit memeknya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan kontolku tepat di memeknya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh. . sakit. . Kek. . sakit. . banget. . ”
“Sabar. . sayang. . nanti juga enak. . deh. . ”

Kuhentak lagi kontolku itu supaya masuk ke memek Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya kontolku bisa masuk walau hanya setengah ke memek Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya.

“Ampun. . Kek. . sakit. . banget. . ampun!” Karena sudah setengah kontolku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek. . Kek. . gh. . gh. . enak. . Kek. . terus. . Kek. . terus. . Kek. . kontol. . Kakek. . rasanya. . sampai. . perut Dhea. . terus. . Kek!”
“Tuh. . khan. . benar. . kata Kakek. . nggak. . sakit lagi sekarang. . jadi enak. . kan?”
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas tetek Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok tetek itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.

Setelah satu jam, memek Dhea kuhujam dengan kontolku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam memeknya membasahi kontolku yang masih terbenam di dalam memeknya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa.

“Agh. . agh. . agh. . argh. . argh. . sshh. . sshh. . argh. . gh. . gh. . Dhea. . keluar. . nih. . Kek. . aw. . aw. . ”

Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik kontolku dari memek Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea.

“Aw. . agh. . agh. . Dhea. . memekmu. . memang. . luar biasa, kontol Kakek. . sampai dipelintir di dalam memekmu. . agh. . kamu. . me. . memeng. . hebat. . ”

Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek. . habis. . ngapain. . Kakak Dhea. . kok. . Kakak Dhea dan Kakek telanjang. . kayak habis. . mandi. . Marsha juga. . mau dong telanjang. . kayak. . Kakek dan. . Kakak Dhea. ”
“Hah. . Marsha jangan. . telanjang!”
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, memek Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi teteknya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari tetek Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.

“Kek. . Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek. . Marsha juga mau dong. . kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat. ”
“Oh. . mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek. ”
“Iya. . Kek. . Marsha mau sekali. ”

Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga memeknya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata.

“Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit. ” Marsha pun menuruti permintaanku. Memeknya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke memeknya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas teteknya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos.

“Ah. . ah. . ah. . sshh. . ssh. . ” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh itilnya. Lidahku mulai menjilati memeknya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusap memeknya sampai lidahku menyentuh itilnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka memek dan itil Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam memeknya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.

“Ah. . ah. . ngeh. . ngeh. . Marsha. . basah nih Kek. . ” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga memek itu agak terangkat, lalu kutindih Marsha dan kutempelkan kontolku pada memeknya yang masih berlendir. Kuhentak kontolku ke dalam memek Marsha yang masih lebih rapat dari memek Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke memek Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.

“Aw. . aw. . sakit. . Kek. . sakit. . sekali. . ”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti memek Kakak Dhea. ”
“Iya Kek. . Marsha mau. . Marsha tahan aja deh sakitnya. ”
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke memek Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya kontolku ke memek Marsha, ini karena memek Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya.

“Hegh. . hegh. . hegh. . iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi. . malah enak. . rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong. . Hegh. . Hegh. . ” komentar Marsha ketika menahan hentakan kontolku di memeknya. Setelah 30 menit memeknya kuhujam dengan hentakan kontolku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari memek Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan.

“Arrgh. . arrghh. . ssh. . Kek. . Marsha. . nggak kuat. . Kek. . Marsha. . mau pingsan. . nih. . nggak. . ku. . kuaatt. . ”

Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di memeknya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di memeknya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik kontolku dari dalam memek Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan kontolku dari memek Marsha yang masih mengeluarkan lendir.

 

“Ah. . ah. . ser. . ser. . ser. . jrot. . jrot. . agh. . ag. . ssh. . argh. . ” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat kontolku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum kontolku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

“Dhea. . sudah. . sayang. . sana ajak adikmu. . bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal. . ayo sayang!”
“Kek. . Dhea puas deh. . lain. . kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal. . tapi lain kali lagi yach. . Kek, perut Marsha jadi hangat. . deh. . enak. . ”
“Iya. . sayang. . pasti lagi. . ayo sekarang Kakek yang mandiin. ”

Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan kontolku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.

  1. No trackbacks yet.

You must be logged in to post a comment.
%d bloggers like this: